Tag: Kopi Cianjur

  • Dorong Diplomasi Budaya dan Ekonomi Baru, Yayasan Rawindra Kata Hara Beraudiensi dengan Kementerian Ekraf Bawa Cetak Biru “The Cianjur Experience”

    Dorong Diplomasi Budaya dan Ekonomi Baru, Yayasan Rawindra Kata Hara Beraudiensi dengan Kementerian Ekraf Bawa Cetak Biru “The Cianjur Experience”

    Jakarta, 12 November 2025 – Sebagai upaya mendorong strategi pemasaran daerah yang terintegrasi, Yayasan Rawindra Kata Hara melakukan audiensi resmi dengan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif RI (Kemenkraf) pada Rabu (12/11/2025). Dalam pertemuan strategis ini, Yayasan memaparkan proyek percontohan bertajuk “The Cianjur Experience: Integrasi Musik Tradisi, Komoditas Kopi, dan Narasi Sejarah sebagai Model Diplomasi Budaya & Ekonomi Baru” langsung kepada Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya.

    Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/ Badan Ekonomi Kreatif.

    Audiensi ini merupakan langkah proaktif Yayasan—organisasi yang berfokus pada penguatan literasi dan budaya terinspirasi dari rekam jejak intelektual Ramadhan K.H.—untuk mengubah paradigma pemasaran komoditas daerah. Melalui cetak biru ini, Yayasan mengusulkan transisi dari sekadar “menjual produk” menjadi “menawarkan pengalaman budaya yang utuh.”

    Gilang Ramadhan, musisi profesional yang berdedikasi pada musik tradisi Indonesia sekaligus Pendiri Yayasan Rawindra Kata Hara, memaparkan bahwa Kabupaten Cianjur adalah titik tolak yang ideal. Cianjur memiliki dua aset historis yang saling terkait erat: Kopi Cianjur dan Musik Cianjuran (Mamaos).

    “Kami ingin membawa musik tradisi tampil ke depan dengan menggunakan kopi sebagai medianya. Kami memposisikan Musik Cianjuran sejajar dengan Kopi Cianjur sehingga keduanya membentuk satu identitas daerah yang kuat. The Cianjur Experience bukan sekadar tentang kopi atau musik semata, melainkan tentang bagaimana Indonesia dapat dengan percaya diri mempresentasikan sejarah, nilai-nilai, dan narasi budayanya kepada dunia,” jelas Gilang di hadapan jajaran kementerian.

    Menyoroti urgensi tata kelola industri yang diangkat dalam proyek ini, perwakilan Yayasan, Aming Sukandar, menjabarkan data ekspansi lahan kopi di Indonesia yang kini menyentuh angka hampir 1,3 juta hektare—naik signifikan dari 800.000 hektare pada 2015.

    Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/ Badan Ekonomi Kreatif.

    “Produksi kopi kita sangat tinggi, namun serapan ekspor masih terbatas karena konsumsi domestik yang masif. Di balik angka ini, ada ratusan ribu pekerja yang hidupnya bergantung pada sektor kopi, dari PTPN hingga Perhutani. Kami berharap pemerintah, melalui Kemenkraf, dapat hadir lebih nyata dalam industri ini agar potensi raksasa tersebut bisa dikelola menjadi nilai tambah yang berdampak langsung bagi masyarakat,” tegas Aming.

    Pemaparan visi kemudian diperkuat oleh Ketua Eksekutif Yayasan, Aldino Putra, yang membedah peta jalan (roadmap) dari The Cianjur Experience. Inisiatif ini dirancang sebagai blueprint terukur yang siap direplikasi secara nasional maupun diekspansi secara global.

    “Proyek di Cianjur ini adalah purwarupa. Model integrasi ini nantinya dapat direplikasi di kota-kota lain seperti Jakarta, Palu, NTT, dan Bali, untuk menonjolkan kekuatan akar budaya masing-masing wilayah. Pada fase kedua, kami telah menargetkan aktivasi dan presentasi komoditas budaya ini di empat kota internasional: Vancouver, Los Angeles, New York, dan Oslo,” urai Aldino.

    Usulan strategis Yayasan Rawindra Kata Hara mendapat respons positif dari pihak Kemenkraf. Menteri Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa inisiatif ini sangat selaras dengan Indikator Kinerja Utama (IKU) Kemenkraf, khususnya dalam mendorong penyerapan tenaga kerja, investasi, dan ekspor.

    Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/ Badan Ekonomi Kreatif.

    “Untuk memastikan dampak yang luas dan konkret, kita tidak bisa bekerja sendiri—banyak pemangku kepentingan yang harus dilibatkan. Kami siap bertindak sebagai orchestrator untuk merajut sinergi lintas-kementerian dan lintas-subsektor dalam mendukung penuh program dari Yayasan ini,” ungkap Menteri Riefky. Beliau juga mencatat bahwa investasi di sektor ekraf yang telah menyentuh 66 persen pada semester pertama tahun ini dapat terus didongkrak melalui strategi storytelling komoditas berbasis kearifan lokal seperti yang dirumuskan Yayasan.

    Turut hadir memperkuat delegasi Yayasan Rawindra Kata Hara dalam audiensi tersebut antara lain peneliti sejarah kopi Prawoto Indarto serta Shatria Dharma, yang diterima langsung oleh Menteri bersama Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Yuke Sri Rahayu, dan Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Dadam Mahdar. Melalui kolaborasi ini, Yayasan optimistis dapat membangun ekosistem kreatif baru yang inklusif, berkelanjutan, dan berpijak pada narasi sejarah lokal nusantara.

    Sumber: Diadaptasi dari Siaran Pers Resmi Kementerian Ekonomi Kreatif RI, berjudul “Dukung Potensi Daerah, Kementerian Ekraf Jajaki Kolaborasi Program Musik Tradisi dan Kopi” (12 November 2025). (Opsional ditambahkan tautan):Baca rilis asli di sini

    #DukunganKemenkraf #TheCianjurExperience #YayasanRawindraKataHara #GilangRamadhan #MusikTradisi #KopiCianjur #DiplomasiBudaya #EkonomiKreatif #StorytellingBudaya #KomoditasLokal #Cianjur #KulinerDanMusik #KemenkrafRI #LiterasiBudaya #ReplikasiProgram